Wellcome, Guest
LOGIN / REGISTER

Menajamkan Strategi Pembangunan Pertanian

Oleh: Ir. Sunarso, M.Si
Strategi pembangunan pertanian kita rasanya memerlukan penajaman. Pertanian itu tidak bisa dikerjakan oleh sarjana pertanian saja, itu tidak bisa, maka perlu leadership integratif untuk mewujudkannya. Perlu kita memperpertajam Strategi Pembangunan Pertanian yang Visioner & Integratif. Maka kita perlu mereformasi pertanian kita dengan konsep agriculture reform. Masalah-masalah yang bersifat strategis, maka perlu diatasi dengan cara strategi, kalau masalahnya taktis, maka perlu diatasi dengan cara taktis.

Tantangan kita secara makro, jika sektor keuangan kena maka berdampak ke semuanya. Tahun 2008, karena koorporasi besar di AS, mengguncang, berakibat menjalar ke mana-mana, dampaknya ke kita. Dan contohnya, lemahnya kurs rupiah mempengaruhi harga kedelai di tahu-tempe.

Penurunan harga karet hari ini akan lama, karena penyebabnya adalah sebelum ekspor beralih ke AS, dulu ekspor ke China, demand karet masih sangat luar biasa, saat ini demand-nya menurun.

Dari semua kondisi itu, yang kena adalah harga komoditas jatuh, karena kita masih mengandalkan komoditas. Yang paling dijaga oleh bank central adalah nilai tukar (kurs) dan inflasi. Karena ini akan mempengaruhi harga pangan. Harga pangan yang terus bergejolak.

Maka sarjana pertanian harus segera bergerak. PISPI harus berperan dalam mengakuratkan data, seperti untuk kebijakan impor. Kalau tidak begitu, maka yang akan muncul adalah spekulan.

Beberapa permasalahan pertanian kita adalah:

1. Tata Ruang/Tata Guna Lahan
Belum adanya Blueprint tata ruang/tataguna lahan yang menimbulkan berbagai permasalahan seperti: Terganggunya siklus hidrologi, tidak terpeliharanya DAS dan tumpang tindih izin pemanfaatan lahan. Selain itu masih adanyanya ego wilayah dan pemanfaatan lahan tidak pada potensi terbaiknya.

2. Peran Kelembagaan Petani
Melemahnya peran kelembagaan petani seperti Koperai Unit Desa (KUD), Kelompok Tani, Balai latihan pertanian dan penyuluh pertanian lapangan.

3. Koordinasi Pengambil Kebijakan
Masih diperlukan sinkronisasi berbagai kebijakan supaya menjadi lebih visioner dan integrative, yaitu tidak bertentangan antar satu lembaga dengan yang lain, dan yang pasti, tidak miss informasi dan memiliki rentang waktu kepastian jangka panjang dan menjamin waktu pengembalian modal baik para pelaku usaha besar maupun kecil.

4. Dukungan Fisik
Perlu dukungan infrastruktur fisik yang lebih optimal untuk menjamin ekstensifikasi. Juga perlu ketersediaan sarana produksi yang sesuai dengan tingkat penerapan teknologi dalam intensifikasi.

5. Mosaic and Fragmented Farming
Lahan pertanian menyempit dan terpecah-pecah akibat konversi lahan produktif menjadi penggunaan non-pertanian dan proses pewarisan.

6. Inkonsistensi Kebijakan Harga
Tidak adanya jaminan bagi pelaku usaha tani atas kepastian harga (market price atau regulated price) serta kesulitan pelaku usaha tani memperhitungkan kelayakan usahanya.

7. Pembiayaan
Persepsi lembaga keuangan bahwa usaha tani tanaman pangan mempunyai resiko yang tinggi serta keterbatasan petani untuk mengakses permodalan bagi pengembangan usaha tani.

Namun, Pertanian kita masih mempunyai banyak peluang, diantaranya.

1. Faktor Tanah dan Ketersediaan Lahan
Jenis tanah di Indonesia cocok untuk ditanami berbagai komoditas pangan. Ketersediaan ini terhampar bukan hanya di Pulau Jawa, perlu pemanfaatan lahan tidur dan tumpang sari lahan tanaman yang telah ada dan juga pembukaan lahan baru.

2. Faktor Agroklimat
Indonesia berada di wilayah tropis yang memiliki keunggulan segi agroklimat (iklim, cuaca, ketersediaan air/curah hujan dan tingkat penyinaran matahari yang cukup sepanjang tahun)

3. Cara Bercocok Tanam dan Budaya Agraris
Indonesia memiliki sumber daya manusia dengan pengetahuan dan pengalaman bercocok tanam yang cukup panjang. Indonesia juga pernah mencapai swasembada pangan, bahkan menjadi pengekspor berbagai komoditas pangan utama.

4. Daya Tarik Usaha Pertanian
Kebutuhan yang besar dan prospek komoditas pertanian menjadi daya tarik yang sangat baik bagi para pelaku usaha baik skala besar maupun kecil. Usaha pertanian pun merupakan bisnis yang profitable pada skala ekonomi yang sesuai.
Disini, Teman-teman PISPI harus memberikan ide, pikiran untuk pertanian Indonesia. Ide harus seliar mungkin, untuk kemajuan Indonesia. Pertanian Indonesia harus direformasi dengan strategi pembangunan pertanian yang visioner dan integrative yang sering saya sebut dengan Agriculture reform dengan mereformasi beberapa aspek seperti:

a) Kejelasan tata ruang Nasional (Darat dan laut).
Jadi di Jawa mungkin tidak perlu melakukan reformasi lahan, tapi perlu melakukan reformasi pengelolaan, cara mengurusnya harus direformasi. Mari lakukan sertifikasi lahan pertanian. Biar gampang dan efisien. Keluhan susah mengakses permodalan, bagaimana menanam kedelai di Jawa, mengimpor sekian, silahkan teman-teman PISPI yang mengatur itu. Di luar Jawa, kita masih punya potensi untuk melakukan reformasi lahan (land reform). Maka idenya, Saya berbicara sebagai PISPI mengajak ayo kita bangun kawasan perbatasan kita dengan fokus pertanian. Apakah tanaman kebun, tanaman pangan, atau peternakan. Dengan cara perluasan lahan 2 hektar, atau 10 hektar.

Kawasan perbatasan harus diperhatikan. Konsep kita workable atau tidak, tergantung kita. Nanti kita bawa ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk dilakukan pemetaan di daerah perbatasan. Lalu dibawa ke Kementerian Pertanian untuk dilakukan pemetaan lahan mana yang cocok untuk hutan atau lahan pangan, setelah itu ke Kementerian Desa.

b) Integrasi Infrastruktur Pertanian.
Nanti kita ke Kementerian Tata Ruang dan Agraria. Integrasi infrastruktur ini seperti jalan, bendungan, irigasi dan pelabuhan secara fisik. Namun secara non fisik kita butuh mereformasi infrastruktur kelembagaan, arus informasi dan teknologi.

c) Pola Pengusahaan Pertanian.
Salah satu solusi dalam peningkatan produksi pangan Nasional adalah melalui Estate Farming berbasis petani. Mengadopsi pertanian tradisional dan pertanian korporasi diharapkan Estate Farming yang bersifat kerakyatan dan tidak didominasi perusahaan besar ini mampu mendorong peningkatan produktivitas pertanian. Tentunya dibutuhkan redistribusi lahan untuk mencapai skala ekonomi dan sertifikasi lahan.

d) Kelembagaan Pertanian.
Pola usaha tani baik badan usaha perorangan, usaha bersama, koperasi dan lainnya harus efisien dan profitable dengan keleluasaan terhadap akses informasi pasar dan permodalan. Akses terhadap teknologi dan penerapannya harus lebih ditingkatkan dengan memaksimalkan peran lembaga penyedia informasi pertanian seperti PPL, akses internet dan teknologi informasi lainnya. Selanjutnya, usaha tani harus mencapai sustainable usaha.

e) Riset dan Teknologi tepat Guna.

- Inventarisasi hasil riset yang telah ada dan aplikatif diimplementasikan secara luas
- Sinkronisasi agenda riset sesuai dengan kebutuhan pengembangan pertanian.
- Pengembangan Teknologi tepat guna secara spesifik dan disesuaikan dengan komoditi atau karakteristik daerah tertentu.
- Optimalisasi anggaran untuk riset.


f) Supply Chain Management
Diperlukan integrasi antara hulu sampai hilir guna meningkatkan nilai tambah produk. Perlu juga integrasi Upstream sampai down stream yaitu antara input sampai ouput produksi. Terakhir pembagian peran yang proporsional antara state dan private.

g) Aspek Keuangan
Pembangunan Infrastruktur, Subsidi yang tepat meliputi Subsidi Input dan Output serta bantuan lain-lain merupakan kewajiban pemerintah yang mesti dilaksanakan secara efisien. Para pelaku usaha pertanian juga berhak mendapatkan kemudahan dari perbankan meliputi pembiayaan komersial, kredit program, saving dan Investmen serta transaksi. Tidak hanya dari perbankan, kemudahan dalam segi keuangan ini bisa didapatkan lewat lembaga keuangan lainnya serta program kemitraan dan bina lingkungan BUMN.

h) Forecasting/Monitoring
Hal ini penting sebagai bahan acuan dalam menentukan Impor, ekspor dan integrasi pertanian dari hulu ke hilir. Aspek ini perlu didukung dengan Management information system yang mumpuni guna menciptakan kebutusan atau kebijakan yang tepat dan antisipatif.

Di sini sudah saya jelaskan bagaimana permasalah, peluang dan strategi pembangunan pertanian Indonesia yang Visioner dan integrative. Silahkan Teman-teman PISPI yang mengaplikasan, menuntaskan dan mengintegrasikannya.
Pertanian merupakan pilar pembangunan bangsa karena fakta geografis bangsa Indonesia kaya akan sumberdaya alam serta perannya yang sangat strategis dalam penyediaan pangan dan energi, kelestarian lingkungan, maupun sebagai sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Oleh karena itu adalah tanggung jawab moral kita sebagai bangsa Indonesia untuk terus memperkokoh pertanian, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan para petani serta menjamin hak masyarakat atas pangan.

Sarjana Pertanian memiliki panggilan mulia untuk meningkatkan perannya dalam pembangunan pertanian. Sarjana pertanian sebagai kekuatan sumberdaya manusia pertanian Indonesia yang dilandasi semangat dan idealisme untuk menggerakkan pertanian nasional memiliki panggilan untuk terus meningkatkan profesionalitasnya. Dengan kekuatan profesionalitas yang dimiliki, diharapkan sarajana pertanian mampu bersinergi dengan para pemangku kepentingan lainnya, guna mewujudkan pembangunan pertanian yang berkeadilan dan mensejahterakan.

Untuk meningkatkan peran sarjana pertanian tersebut dipandang perlu untuk membentuk organisasi yang mewadahi para sarjana pertanian dalam Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia yang memiliki tujuan untuk memperkuat jati diri bangsa sebagai bangsa agraris yang berdaulat dan bermartabat.
Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur, maka pada tanggal 23 Oktober 2010 bertempat di Jakarta dideklarasikan PERHIMPUNAN SARJANA PERTANIAN INDONESIA (PISPI), dengan Visi dan Misi:

Visi:
Terwujudnya Kekuatan Sarjana Pertanian Menuju Peradaban Baru Pertanian Indonesia yang lebih Mandiri dan Bermartabat

Misi:
1. Meningkatkan peran Sarjana Pertanian dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berkeadilan yang dilaksanakan bersama pemerintah dan masyarakat.
2. Mengembangkan serta menyebarluaskan ilmu, teknologi, metode dan manajemen pembangunan pertanian;
3. Membina jiwa korsa, mengembangkan profesionalisme dan menyalurkan aspirasi sarjana pertanian.
BADAN PENGURUS PUSAT
PERHIMPUNAN SARJANA PERTANIAN INDONESIA
2015-2020

Ketua Umum :

Ir. Sunarso, M.Si


Wakil Ketua Umum :

Achmad Tjachja N


Ketua Bidang Kajian Strategis :

M. Arief . Bisma


Ketua Bidang Hubungan Kerjasama Antar Lembaga:

Rahmi Purnomowati


Ketua Bidang Sertifikasi Dan Pengembangan Profesi:

Zulkarnain Kardun


Wakil Ketua Umum :

Tedy Dirhamsyah


Wakil Ketua Umum :

Yeka Hendra Fatika


Ketua Bidang Organisasi Dan Keanggotaan:

Kamhar Lakumani


Ketua Bidang Kewirausahaan Dan Pengabdian Masyarakat:

Boyke Setiawan Soeratin


Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan:

M. Sukri Nasution

© Hak Cipta Terpelihara PISPI